MODEL
OPTIMASI AGRO ECO-INDUSTRIAL PARK BERBASIS INDUSTRI TAHU DENGAN PENDEKATAN GOAL
PROGRAMMING
Dosen: MUHAMMAD RIDHA ALFARABI ISTIQLAL
Disusun Oleh:
Nama/ NPM : Muhammad Aljishi Ilyaza/ 35418176
Kelas : 3ID06
1.
Perumusan
Masalah
Industri tahu di Kabupaten Sumedang
menghadapi beberapa permasalahan terkait limbah, inefisiensi penggunaan air,
dan ketergantungan terhadap bahan baku (kedelai) impor. Konsep Agro
Eco-industrial Park (AEIP) berbasis industri tahu dapat menjadi alternatif
solusi untuk memperbaiki kinerja industri tahu dan agroindustri terkait
lainnya. Pengembangan AEIP perlu mempertimbangkan keseimbangan kapasitas untuk mengoptimalkan
kinerja sistem. Penelitian ini bertujuan membangun suatu model optimasi AEIP
berbasis industri tahu yang didukung agribisnis ternak sapi, usaha tani
kedelai, produksi pupuk organik, dan unit biodigester. Penelitian dilakukan di
sentra industri tahu Giriharja, Kabupaten Sumedang dengan menggunakan metode
Goal Programming untuk memodelkan pertukaran material antar agroindustri. Model
memasukkan lima variabel keputusan yaitu jumlah produksi tahu, jumlah produksi
ternak sapi, jumlah produksi kedelai, jumlah produksi pupuk organik, dan jumlah
produksi biogas. Kinerja model diukur dari sisa pertukaran material dan derajat
daur ulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dibangun mampu
memberikan solusi optimal berupa jumlah produksi untuk masing-masing
agroindustri. Model juga menunjukkan kinerja yang lebih baik dibanding sistem
yang sedang berjalan yang diindikasikan dengan penurunan sisa limbah dan
peningkatan Recycle Rate.
2.
Metode
Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif, yaitu penelitian yang menggambarkan kondisi suatu objek (Natsir,
1999). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif di mana
variabel-variabel dan hubungannya diukur dan diteliti sehingga menghasilkan
data dalam bentuk angka (Creswell, 2014). Objek yang diteliti adalah konsep
Agro Eco-industrial Park (AEIP) yang terdiri dari industri tahu, usaha ternak
sapi, usaha tani kedelai, usaha pupuk organik dan unit biodigester serta
pertukaran material, air dan energi di antaranya (Gambar 1). Lokasi yang dipilih
adalah sentra industri tahu Giriharja yang berada di Desa Kebonjati, Kecamatan
Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, di mana terdapat industri tahu, usaha
ternak sapi, lahan pertanian, dan fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL) industri tahu yang juga berfungsi sebagai biodigester. Berikut ialah
foto model Konseptual Agro Eco-industrial Park Berbasis Industri Tahu:
3.
Hasil dan Pembahasan
Formulasi Model. Model optimasi
didasarkan pada konsep AEIP berbasis industri tahu yang terdiri dari industri
tahu, usaha ternak sapi, usaha tani kedelai, usaha pupuk organik, dan unit
biodigester. Interaksi pertukaran material, air dan energi serta kondisi
ketersediaan sumber daya diterjemahkan ke dalam fungsi-fungsi yang terdiri dari
jumlah kebutuhan, jumlah output atau ketersediaan dan penyimpangan yang mungkin
terjadi. Gambar 2 mengilustrasikan aliran material, air dan energi pada AEIP
berbasis industri tahu. Pertukaran kedelai. Industri tahu membutuhkan kedelai
sebagai bahan baku untuk membuat tahu. Pertukaran kedelai dilakukan antara
usaha tani kedelai dengan industri tahu. Produksi kedelai diharapkan sama
dengan kebutuhan kedelai pada industri tahu. Pertukaran kedelai memungkinkan
adanya penyimpangan positif (kelebihan produksi) atau penyimpangan negatif
(kekurangan produksi) namun akan diminimasi dalam fungsi tujuan. Berikut ialah
gambar Aliran Material, Air dan Energi pada Agro Eco-industrial Park Berbasis
Industri Tahu & Tabel Nilai Parameter Model Optimasi AEIP
4.
Kesimpulan
Metode
non-preemptive Goal Programming dapat digunakan untuk membangun model optimasi
Agro Ecoindustrial Park (AEIP) berbasis industri tahu. Model optimasi AEIP
berbasis industri tahu merepresentasikan pertukaran material, air, dan energi
dan penggunaan sumber daya di antara industri tahu, usaha ternak sapi, usaha
tani kedelai, usaha pupuk organik dan unit biodigester. Model menghasilkan
output solusi optimal berupa jumlah produksi masing-masing agroindustri yang
berguna dalam perencanaan kapasitas agroindustri dalam rangka pengembangan
AEIP. Kinerja model optimasi AEIP lebih baik dibanding sistem existing yang
ditunjukkan dengan penurunan sisa limbah (hingga 0 liter limbah cair/hari) dan
peningkatan Recycle Rate dari 15,4% pada sistem existing menjadi 79,1% pada
model optimasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar